Jakarta, ditrinews.com – Internet kembali melahirkan tren absurd yang mengguncang media sosial (medsos) yakni angka 67. Angka ini mendadak viral di TikTok, Instagram, dan YouTube Shorts sejak awal tahun 2025.
Dalam berbagai video, pengguna terlihat mengucapkan “six-seven” dengan gaya berlebihan sambil melakukan gerakan tangan tertentu. Sekilas tampak konyol, namun justru di situlah letak daya tariknya sederhana, tidak masuk akal, tapi menular dengan cepat.
Dilansir dari Wikipedia, tren ini bermula dari lagu “Doot Doot (6 7)” karya rapper bernama Skrilla, yang awalnya dirilis secara tidak resmi pada Desember 2024. Dalam lagu tersebut, frasa “six-seven” diulang berkali-kali tanpa konteks yang jelas.
Skrilla sendiri menyatakan bahwa angka itu tidak memiliki arti khusus, hanya terdengar enak diucapkan. Dari situlah, frasa “6-7” mulai menjadi bahan candaan dan akhirnya berkembang menjadi fenomena meme di dunia maya.
Dilansir dari E! Online, banyak pengguna media sosial mulai mengunggah video parodi yang meniru gaya lagu tersebut. Mereka menambahkan gestur tangan naik-turun dan ekspresi wajah lucu ketika mengucapkan “six-seven.”
Efeknya viral karena mudah diikuti dan tidak membutuhkan konteks apa pun. Dalam waktu singkat, istilah ini berubah menjadi semacam bahasa rahasia bagi kalangan muda, terutama pelajar dan pengguna TikTok berusia remaja.
Menariknya, angka ini kemudian dihubungkan dengan sejumlah tokoh publik. Nama pebasket LaMelo Ball, yang memiliki tinggi 6 kaki 7 inci, sering dikaitkan dengan meme ini. Banyak video edit yang menampilkan LaMelo diiringi dengan suara “six-seven,” sehingga menciptakan asosiasi lucu antara tinggi badan dan angka viral tersebut. Namun, sebagaimana dijelaskan oleh Forbes, hubungan itu murni kebetulan dan tidak memiliki makna tersembunyi.
Fenomena ini bahkan menyebar ke ruang kelas. Dilansir dari The Guardian, sejumlah guru di Inggris melaporkan bahwa para siswa kerap berteriak “six-seven!” setiap kali angka enam atau tujuh disebut dalam pelajaran.
Hal ini dianggap mengganggu proses belajar, tetapi juga menunjukkan seberapa kuat budaya meme memengaruhi perilaku generasi muda. Meme ini menjadi bentuk ekspresi spontan -bukan untuk menyampaikan pesan, melainkan sekadar ikut tren.
Para ahli media menyebut bahwa “six-seven” adalah contoh sempurna dari meme tanpa makna. Tidak ada filosofi, politik, atau pesan sosial di baliknya. Justru ketidakbermaknaan itulah yang membuatnya populer, karena memberikan ruang bagi siapa pun untuk ikut serta tanpa merasa perlu memahami konteks. Ini menegaskan bahwa humor digital masa kini sering kali lahir dari hal-hal yang absurd dan acak.
Namun, di sisi lain, para pengamat budaya internet menilai fenomena “67” mencerminkan kondisi brainrot culture atau istilah untuk menggambarkan konten yang repetitif dan tidak bermakna tapi sangat viral.
Dilansir dari Forbes, banyak pihak khawatir tren seperti ini menunjukkan menurunnya kualitas interaksi digital, terutama di kalangan anak muda. Meski begitu, sebagian lainnya menganggapnya hanya sebagai bentuk hiburan ringan di tengah derasnya arus informasi.
Pada akhirnya, angka 67 hanyalah simbol kosong yang dihidupkan oleh kreativitas dan rasa ingin bersenang-senang di internet. Ia tidak membawa pesan mendalam, namun justru menjadi fenomena global karena kesederhanaannya.
Meme ini membuktikan bahwa di era digital, sesuatu yang tidak bermakna pun bisa menjadi sarana komunikasi dan kebersamaan. Dalam dunia meme, terkadang “tidak masuk akal” adalah bahasa universal yang paling mudah dipahami. (*)



